//
you're reading...
Artikel guru

KHUSUS UNTUK GURU DAN SISWA DIHARAPKAN SEGERA BANGUN JEMBATAN EMOSI

Anda pernah menemukan siswa Anda menutup diri, tidak mendengarkan Anda, yang membuat Anda jengkel, bahkan marah.

Daniel Goleman, dalam bukunya Emmotional Intelligences (1995) mengatakan, bahwa ketika otak menerima ancaman atau tekanan, maka kapasitas saraf untuk berpikir rasional mengecil. Otak akan dibajak secara emosional. Dalam keadaan seperti ini, kemampuan belajar seorang siswa akan drastis berkurang.

Dalam hal sebaliknya, dengan tekanan positif atau suportif (eustress) otak dapat terlibat secara emosional, dan memungkinkan kegiatan saraf maksimal. Siswa harus dituntun agar terlibat secara emosional dalam proses belajar. Kuncinya adalah dengan ikatan emosional, yaitu dengan menciptakan kesenangan dalam belajar, menjalin hubungan, dan menyingkirkan segala ancaman dari suasana belajar yang menyenangkan itu.

Jalinlah Rasa Simpati dan Saling Pengertian
Untuk menjalin ikatan emosional, guru harus membangun hubungan, yaitu dengan menjalin rasa simpati dan saling pengertian. Membangun hubungan dan kenyamanan belajar membutuhkan niat dan kasih sayang. Komunikasi terbuka akan membuat Anda dapat berbicara lebih jujur dan penuh kasih atas pengamatan Anda tanpa membuat siswa merasa defensif.
Dengan menjalin rasa simpati dan saling pengertian, siswa akan memiliki kehidupan yang penuh gairah, mendapatkan jalan memasuki dunia baru, mengetahui minat, dan berbicara dengan bahasa hati mereka.

Ciptakanlah Kegembiraan
Kegembiraan membuat siswa siap belajar dengan lebih mudah, dan kegembiraan dapat mengubah sikap negatif. Jangan putuskan rasa riang dalam proses belajar mengajar, sehingga belajar lepas dari pengalaman yang datar.

Dalam sekolah yang konvensional sering terjadi siswa memulai kegiatan belajarnya dengan beban akan melakukan kerja keras, akan diperintah dengan otoriter. Ini sangat berlawanan dengan belajar yang sebenarnya, ketakjuban, penemuan, permainan, menanyakan sejuta pertanyaan, merasa terlibat, dan merasakan kegembiraan.

Sugesti Positif
Asumsi sering mewarnai -dan bahkan menciptakan- pengalaman. Asumsi negatif cenderung menciptakan pengalaman negatif dan asumsi positif cenderung menciptakan pengalaman positif. Kadang-kadang pengajar secara tidak bijaksana merusak belajar dengan memasukkan sugesti negatif.

Bahasa sugesti positif akan dipahami secara sadar maupun tidak sadar dan karenanya berpengaruh besar pada hasil belajar. Contohnya, setelah menguasai materi ini, kalian akan mampu.
Hal ini akan sangat berarti dan penting bagi kalian. Mempelajari hal ini mah gampang banget! Saya tahu, kalian pasti berhasil mempelajari topik ini. Sugesti jangan sampai menempatkan siswa Anda sebagai seorang anak yang bodoh.

Ketika Anda membantu orang lain menggantikan asumsi negatif mereka dengan yang positif, rasa gembira dan lega akan mengalir masuk ke dalam hati siswa dan sangat membantu mereka mempercepat pelajaran.

Tujuan cenderung dikaitkan dengan apa, sedangkan manfaat dikaitkan dengan MENGAPA. Siswa akan belajar dengan baik jika mereka mengetahui MENGAPA mereka belajar, dan mengetahui pula relevansinya terhadap diri mereka secara pribadi.

About milanovira

FRIENDLY,MOSLEM,OPEN FOR FRIEND

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: