SEMINAR AKUNTANSI
Pengaruh Tanggung jawab Sosial Terhadap Kinerja Perusahaan
Oleh:
YUSIANA MIANTINI
AKUNTANSI KARYAWAN
PRODI AKUNTANSI
FE UNIVERSITAS KUNINGAN

BAB I
PENDAHULUAN

Kinerja keuangan perusahaan merupakan hasil dari banyak keputusan individual yang dibuat secara terus menerus oleh manajemen. Penilaian atas kinerja keuangan suatu perusahaan dapat dilakukan dengan menganalisis laporan keuangannya. Laporan keuangan memberikan banyak informasi kepada pemegang saham dan masyarakat umum tentang usaha suatu perusahaan. Laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan harus memuat informasi keuangan yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan tentang perusahaan tersebut. Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap informasi keuangan suatu entitas secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok. Pertama adalah pihak internal perusahaan dan kedua adalah pihak eksternal seperti kreditur, investor, pemasok, pemerintah serta masyarakat.
Informasi keuangan yang akan disajikan harus dianalisis terlebih dahulu agar relevan dengan tujuan dan kepentingan pemakai, sehingga dihasilkan keputusan bisnis yang tepat. Pada umumnya dalam melakukan analisis keuangan alat analisis yang digunakan adalah analisis rasio keuangan. Analisis rasio keuangan merupakan alat yang memperbandingkan suatu hal dengan hal lainnya sehingga dapat menunjukkan hubungan atau korelasi dari suatu laporan finansial berupa neraca dan laporan laba rugi. Adapun rasio keuangan yang sering digunakan adalah rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, leverage, aktivitas, pertumbuhan, penilaian pasar dan produktivitas (Harahap, 2008).
Keberhasilan suatu perusahaan biasanya ditandai dengan kinerja keuangan yang positif baik dari segi pencapaian laba dan pertumbuhan perusahaan tersebut, namun ada hal lain yang tak kalah pentingnya menandai keberhasilan suatu perusahaan yaitu keberlangsungan (sustainability). Kunci utama pencapaian keberlangsungan adalah penerimaan publik akan kehadiran perusahaan. Untuk mencapai keberlangsungan tersebut lahirlah suatu konsep yang dikenal dengan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Sosial Responsibility (Chatrine, 2008). CSR merupakan suatu konsep terintegrasi yang menggabungkan aspek bisnis dan sosial dengan selaras agar perusahaan dapat membantu tercapainya kesejahteran stakeholders, serta dapat mencapai profit maksimum sehingga dapat meningkatkan harga saham. CSR merupakan kepedulian perusahaan yang didasari tiga prinsip dasar yang dikenal dengan istilah Triple Bottom Lines, yaitu: Profit (keuntungan), People (masyarakat) dan Planet (lingkungan) (Wibisono : 2007).
Dewasa ini, masyarakat sekarang lebih pintar dalam memilih produk yang akan mereka konsumsi. Masyarakat cenderung untuk memilih produk yang diproduksi oleh perusahaan yang peduli terhadap lingkungan dan atau melaksanakan CSR. Survei yang dilakukan Booth-Harris Trust Monitor pada tahun 2001 menunjukkan bahwa mayoritas konsumen akan meninggalkan suatu produk yang mempunyai citra buruk atau diberitakan negatif. Banyak manfaat yang diperoleh perusahaan dengan pelaksanan corporate social responsibility, antara lain produk semakin disukai oleh konsumen dan perusahaan diminati investor. Corporate social responsibility dapat digunakan sebagai alat marketing baru bagi perusahaan bila itu dilaksanakan berkelanjutan. Untuk melaksanakan CSR berarti perusahaan akan mengeluarkan sejumlah biaya. Biaya pada akhirnya akan menjadi beban yang mengurangi pendapatan sehingga tingkat profit perusahaan akan turun. Akan tetapi dengan melaksanakan CSR, citra perusahaan akan semakin baik sehingga loyalitas konsumen makin tinggi. Seiring meningkatnya loyalitas konsumen dalam waktu yang lama, maka penjualan perusahaan akan semakin membaik, dan pada akhirnya dengan pelaksanaan CSR, diharapkan tingkat profitabilitas perusahaan juga meningkat (Satyo, Media Akuntansi Edisi 47, 2005; 8 ).
CSR merupakan salah satu hal yang memiliki peranan yang cukup penting dalam hal keberlangsungan hidup suatu perusahaan. Apabila perusahaan mengabaikan tanggung jawab sosialnya, maka hal tersebut dapat mengganggu going concern perusahaan yang berupa tuntutan dari lingkungan internal dan eksternal perusahaan khususnya masyarakat. Oleh sebab itu untuk mengantisipasi terganggungnya going concern perusahaan perlu sikap yang tegas dan komitmen yang tinggi dari pihak perusahaan untuk menjaga hubungan yang baik dan berkesinambungan terhadap stakeholders nya. Perubahan-perubahan yang terjadi setelah perusahaan memperhatikan tanggung jawab sosialnya biasanya akan tampak pada kinerja perusahaan dan penampilan finansialnya dimana kondisi dan posisi keuangan perusahaan mengalami perubahan dan hal ini tercermin dalam laporan keuangan perusahaan yang sadar akan pentingnya memperhatikan tanggung jawab sosial bagi pertumbuhan dan keberlangsungan usahanya.
Banyak peristiwa yang ikut menyadarkan pentingnya penerapan tanggung jawab sosial perusahaan khususnya didukung oleh semakin besarnya kepedulian masyarakat global terhadap produk-produk yang ramah lingkungan. Kasus lumpur Lapindo merupakan contoh paling nyata yang dapat menyadarkan bahwa konsep tanggung jawab sosial perusahaan memang sangat penting untuk diterapkan. Dampak yang ditimbulkan sangat luas, mulai dari kerusakan sarana pabrik, infrastruktur, jalan tol Surabaya-Gempol yang ditutup total, bahkan perusahaan yang tergolong industri kecil menengah dan industri besar ikut terkena dampaknya. Sebagai contoh PT. Petrokimia Gresik terpaksa menghentikan operasi pabrik amonia dan ureanya untuk beberapa bulan, serta PT. PLN yang terpaksa menurunkan dayanya dan mensubstitusi bahan bakarnya dengan solar yang mana biayanya empat kali lipat dibanding dengan gas. Ditambah lagi dengan korban jiwa baik yang tewas maupun dinyatakan hilang. Fenomena tersebut menunjukkan dampak yang negatif terhadap kinerja operasional dan keuangan PT. Lapindo Brantas Sidoarjo karena kurangnya kesadaran tanggung jawab sosialnya.
Program CSR sebagai wujud kepedulian perusahaan terhadap tanggung jawab sosialnya merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan agar peristiwa tersebut tidak sampai terjadi. Tidak hanya alasan tersebut di atas yang mendukung perlunya penerapan program CSR oleh perusahaan, terlebih-lebih setelah disahkannya Undang-undang Perseroan Terbatas (UUPT) terutama pasal 74 tahun 2007 yang mewajibkan perseroan menganggarkan dana pelaksanaan tanggung jawab sosial dengan menyisihkan dari laba bersih untuk pelaksanaan program CSR tersebut. Keputusan perusahaan akan melaksanakan program tentu tidak terlepas dari tujuan utamanya untuk menghasilkan keuntungan. Walaupun program CSR bersifat sosial, tentu perusahaan ingin menjalankan program yang mendukung kinerja perusahaan dan memberikan manfaat bagi perusahaan. Oleh karena itu, rasio keuangan dapat membantu dalam mengevaluasi kinerja program selama periode tertentu.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Corporate Social Responsibility
Akhir-akhir ini tema kebijakan perusahaan yang bertanggung jawab sosial (CSR) semarak dan ramai dibicarakan sebagai suatu program yang “wajib” dilaksanakan. Corporate Social Responsibility atau disingkat CSR merupakan sebuah konsep yang tengah berkembang secara global dan penerapannya telah merambah ke semua sector, khususnya sektor industri. Perusahan yang mengadopsi dan menjalankan konsep tanggung jawab sosial dewasa ini telah mendapatkan perhatian dari kalangan kreditor (secara khusus perbankan) dan kalangan investor (secara khusus dalam dunia pasar modal). Di lain pihak perusahaan-perusahaan yang selama ini menjalankan pertanggungjawaban sosial relatif tidak terganggu kegiatan operasionalnya. Berikut ini adalah beberapa definisi mengenai CSR/ Tanggung Jawab Sosial Perusahaan tersebut :
“Tanggung jawab sosial perusahaan atau lebih singkatnya CSR (Cosporate Social Responsibility) adalah suatu komitmen yang berkelanjutan dari suatu perusahaan untuk berperilaku etis dan berkontribusi secara positif kepada karyawannya, komunitas, dan lingkungan sekitarnya serta masyarakat luas.”
Sedangkan menurut Pearce & Robinson yang dialihbahasakan oleh Yanifi Bachtiar dan Christine di dalam buku yang berjudul Manajemen Strategis mengemukakan bahwa:
“Tanggung jawab sosial perusahaan adalah gagasan bahwa suatu perusahaan memiliki tugas untuk melayani masyarakat sekaligus kepentingan keuangan pemegang sahamnya”.
Dari beberapa definisi dapat disimpulkan bahwa CSR adalah kegiatan perusahaan yang peduli terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitar perusahaannya serta berperilaku etis dan bertanggung jawab di dalam pengambilan keputusannya.
2.2 Sejarah dan Perkembangan CSR
Walaupun pembicaraan tentang CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan baru ramai terdengar dalam beberapa tahun terakhir ini, tetapi sebenarnya CSR bukanlah hal yang baru, berikut ini merupakan sejarah dan perkembangan tentang CSR seperti yang dipaparkan oleh Hangga Surya di dalam http://donhangga.com sebagai berikut :
“Tanggung jawab sosial korporasi (CSR) telah menjadi pemkiran para pembuat kebijakan sejak lama. Bahkan dalam kode Hammurabi (tahun1700-an SM) yang berisi 282 hukum telah memuat sanksi bagi para pengusaha yang lalai dalam menjaga kenyamanan warga atau menyebabkan kematian bagi pelanggannya. Dalam kode Hammurabi disebutkan bahwa hukuman mati diberikan kepada orang-orang yang menyalahgunakan ijin dalam penjualan minuman, pelayanan yang buruk, dan melakukan pembangunan gedung di bawah standar sehingga menyebabkan kematian orang lain.”
Pada tahun 1950-an, literatur-literatur awal menyebutkan bahwa CSR sebagai Social Responsibility (SR bukan CSR). Kata ‘Corporate’ tidak dimasukkan kedalam istilah tersebut karena kemungkinan besar ini disebabkan perngaruh dan dominasi korporasi modern belum terjadi atau belum disadari saat itu.
Pelaksanaan CSR yang terjadi diantara negara-negara di Asia, penetrasi aktivitas CSR di Indonesia masih tergolong rendah. CSR Pada tahun 2005 baru ada 27 perusahaan yang memberikan laporan mengenai aktivitas CSR yang dilaksanakannya.
Dalam hal kebijakan pemerintah, perhatian pemerintah terhadap CSR tertuang dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas (UU Nomor 40 Tahun 2007) Bab V Pasal 74. Walaupun baru hanya mewajibkan pelaksanaan aktivitas CSR untuk perusahaan di bidang pertambangan, Undang-Undang tersebut menimbulkan kontrovesi dikarenakan kebijakan mewajibkan aktivitas CSR bukan merupakan kebijakan umum yang dilakukan di negara-negara lain. Kontrovesi juga timbul dari adanya kekhawatiran munculnya peraturan pelaksanaan yang memberatkan para pengusaha.

1.2.1 Pro dan Kontra Terhadap CSR
Dalam perkembangannya tidak semua perusahaan menerima konsep pelaksanaan tanggung jawab sosial ini, Sofyan Syafri Harahap dalam bukunya yang berjudul Teori Akuntansi mengemukakan argumen mengenai perusahaan agar memiliki sikap dan tanggung jawab sosial antara lain :
“1) Keterlibatan sosial merupakan respon terhadap keinginan dan harapan masyarakat jangka panjang. Hal ini sangat menguntungkan perusahaan.
2) Meningkatkan nama baik perusahaan akan manimbulkan simpati langganan, simpati karyawan, investor dan lain-lain.
3) Keterlibatan sosial mungkin akan mempengaruhi perbaikan lingkungan, masyarakat, yang mungkin akan menurunkan produksi.
4) Menghindari campur tangan pemerintah dalam melindungi masyarakat. Campur tangan pemerintah cenderung membatasi peran perusahaan, sehingga jika perusahaan memiliki tanggung jawab sosial mungkin dapat menghindari pembatasan kegiatan perusahaan.
5) Dapat menunjukkan respon positif perusahaan terhadap norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat, shingga mendapat simpati masyarakat.
6) Sesuai dengan keinginan para pemegang saham dalam hal publik.
7) Mengurangi tensi kebencian masyarakat kepada perusahaan yang kadang-kadang melakukan kegiatan yang dibenci masyarakat tidak mungkin dihindari.
8) Membantu kepentingan nasional, seperti konservsi alam, pemeliharaan barang seni budaya, peningkatan pendidikan rakyat, lapangan kerja, dan lain-lain.”
Adapun argumen yang menolak keterlibatan perusahaan dalam kegiatan sosial menurut Harahap dalam bukunya yang berjudul Teori Akuntansi antara lain :
“1) Mengalihkan perhatian perusahaan dari tujuan utamanya dalam mencari laba. Ini akan menimbulkan pemborosan.
2) Memungkinkan keterlibatan perusahaan terhadap permainan kekuasaan atau politik secara berlebihan yang sebenarnya bukan lapangannya.
3) Dapat menimbulkan lingkungan bisnis yang monolitik bukan yang bersifat pluralistik.
4) Keterlibatan sosial memerlukan dana dan tenaga yang cukup besar yang tidak dapat dipenuhi oleh dana perusahaan yang terbatas, yang dapat menimbulkan kebangkrutan atau menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi.
5) Keterlibatan pada kegiatan sosial yang demikian kompleks membutuhkan tenaga dan para ahli yang belum tentu dimiliki oleh perusahaan.

Dari kedua argumen di atas dapat dilihat bahwa perusahaan yang menjalankan konsep pelaksanaan tanggung jawab sosial selain mereka merasa peduli terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar, tetapi perusahaan juga mengharapkan timbal balik yang positif dari pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) trsebut. Juga terdapat argumen yang menolak pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan tersebut tidak lain dikarenakan ketakutan mereka dalam tujuan utama perusahaan yaitu mendapatkan laba yang maksimal akan berkurang.

2.3 Arti Penting Pelaksanaan Corporate Sosial Responsibility (CSR) /Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Perubahan sikap perusahaan maupun pemerintah terhadap pelaksanaan CSR disebabkan kesadaran mereka akan pentingnya melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Satrio Arismunandar di dalam http://www.wikimu.com mengemukakan bahwa :
“Ada enam kecenderungan utama, yang semakin menegaskan arti penting CSR. Yaitu; meningkatnya kesenjangan antara kaya dan miskin, posisi negara yang semakin berjarak pada rakyatnya; makin mengemukakan arti kesinambungan; makin gencarnya sorotan kritis dan resistensi dari publik, bahkan yang bersifat anti-perusahaan; tren ke arah transparansi; dan harapan-harapan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik dan manusiawi pada era milenium baru.”
Diharapkan perusahaan-perusahaan saat ini lebih sadar akan tanggung jawabnya selain kepada pemegang saham, juga pada masyarakat, lingkungan dan alam disekitar tempat usahanya.
1.3 Bentuk-bentuk Corporate Sosial Responsibility (CSR)/ Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Bentuk keterlibatan perusahaan tergantung pada lingkungan sosial masyarakat, sifat dan keadaan yang berbeda dari satu masyarakat dengan masyarakat lain. Bentuk kegiatan yang relevan dan dapat diakukan oleh perusahaan dengan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan masyarakat di Indonesia. Menurut Sofyan Syafri Harahap dalam bukunya yang berjudul Teori Akuntansi bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah sebagai berikut
“Lingkungan Hidup:
– Pengawasan terhadap efek polusi
– Riset dan pengembangan lingkungan
– Pengelolaan sampah dan limbah
– Perbaikan pengrusakan alam dan konversi alam
– Keindahan lingkungan
– Pengurangan suara bising
– Penggunaan tanah
– Kerjasama dengan pemerintah danUniversitas
– Pembangunan lokasi rekreasi
– Dan lain-lain
Energi:
– Penghematan energi dalam proses produksi
– Konservasi energi
– Dan lain-lain
Sumber Daya Manusia dan Pendidikan:
– Keamanan dan kesejahteraan karyawan
– Beasiswa
– Menambah dan memperluas hak-hak karyawan
– Pendidikan karyawan
– Kebutuhan keluarga da rekreasi karyawan
– Usaha untuk mendorong partisipasi
– Perbaikan pensiun
– Membantu perguruan tinggi
– Riset dan pembangunan
– Pengangkatan pegawai dari kelompok miskin dan minoritas
– Peningkatan karir karyawan
– Dan lain-lain
Praktek Bisnis yang Jujur:
– Memperhatikan hak-hak karyawan
– Jujur dalam iklan
– Mengontrol kualitas produk
– Pemberian kredit
– Servis yang memuaskan
– Produk yang sehat
– Jaminan kepuasan pelanggan
– Dan lain-lain
Membantu Masyarakat Lingkungan:
– Tidak campur tangan dalam struktur masyarakat
– Sumbangan untuk kegiatan sosial masyarakat
– Perbaikan perumahan desa
– Jalinan kemitraan kerja
– Memanfaatkan tenaga ahli perusahaan dalam mengatasi masalah sosial di lingkungan
– Membangun klinik kesehatan, sekolah dan rumah sakit
– Perbaikan desa/kota
– Bantuan dana
– Perbaikan sarana pengangkutan dan pasar
– Dan lain-lain
Kegiatan Seni dan Kebudayaan:
– Sponsor kegiatan seni dan budaya
– Perekrutan tenaga kerja yang berbakat seni dan budaya
– Membantu lembaga seni dan budaya
– Penggunaan seni dan budaya dalam iklan
– Dan lain-lain
Hubungan dengan Pemegang Saham:
– Pengungkapan informasi dalam laporan keuangan ditingkatkan
– Pengungkapan keterlibatan perusahaan dalam kegiatan sosial
– Sifat keterbukaan direksi pada semua persero
– Dan lain-lain
Hubungan dengan Pemerintah:
– Menaati peraturan pemerintah
– Mengontrol kegiatan politik perusahaan
– Membantu proyek dan kebijakan pemerintah
– Membatasi kegiatan lobbying
– Membantu lembaga pemerintah sesuai dengan kemampuan perusahaan
– Membantu secara umum usaha perningkatan kesejahteraan masyarakat
– Meningkatkan produktivitas sektor informal
– Pengembangan dan investasi manajemen
– Dan lain-lain”

2.4 Metode Pengukuran dan Teknik Pelaporan Tanggung Jawab Sosial
a. Metode Pengukuran Tanggung Jawab Sosial
Dalam akuntansi konvensional jelas bahwa setiap transaksi baru dapat dicatat jika sudah mempengaruhi posisi keuangan perusahaan. Dalam Socio Economic Accounting (SEA) kita harus mengukur dampak positif (Social Cost) dan dampak negatif (Social Negatif) yang ditimbulkan oleh kegiatan perusahaan, di sinilah rumitnya menghitung dampak ekonomis pelaksanaan tanggung jawab sosial oleh karena itu para ahli membuat beberapa metode pengukuran seperti yang dirumuskan oleh Sofyan Syafri Harahap dalam buku Teori Akuntansi metode pengukuran tanggung jawab sosial sebagai informasi yang akan dilaporkan dalam Socio Economic Reporting misalnya :
“1) Menggunakan penelitian dengan menghitung Opportunity Cost Approach. Misalnya dalam menghitung social cost dari pembuangan, maka dihitung berapa kerugian manusia dalam hidupnya; berapa berkurang kekayaannya; berapa kerusakan wilayah rekreasi; dan lain sebagainya akibat pembuangan limbah. Total kerugian itulah yang menjadi Social cost perusahaan (Belkaoui, 1985 p.185).
2) Menggunakan daftar kuesioner, survey, lelang, di mana mereka yang merasa dirugikan daitanyai berapa besar jumlah kerugian yang ditimbulkan atau berapa biaya yang harus dibayar kepada mereka sebagai kompensasi kerugian yang dideritanya.
3) Menggunakan hubungan antara kerugian massal dengan permintaan untuk barang pengurangan dalam menghitung jumlah kerugian masyarakat.
4) Menggunakan reaksi pasar dalam menentukan harga. Misalnya vonis hakim akibat pengaduan masyarakat akan kerusakan lingkungan dapat juga dianggap sebagai dasar perhitungan.”
Walaupun keempat metode diatas secara mendasar sangat berbeda, tetapi pada dasarnya keempat metode tersebut untuk mengetahui kerugian serta reaksi masyarakat tehadap kegiatan perusahaan yang menimbulkan dampak negatif.
b. Teknik Pelaporan Tanggung Jawab Sosial
Walaupun teknik pelaporan mengenai pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) belum mempunyai pedoman yang resmi, ada beberapa teknik pelaporan yang menurut para ahli bisa digunakan perusahaan seperti yang diungkapkan oleh Diller yang diterjemahkan oleh Sofyan Syafri Harahap dalam buku Teori Akuntansi adalah sebagai berikut :
“1) Pengungkapan dalam surat kepada pemegang saham baik dalam laporan tahunan atau bentuk laporan lainnya.
2) Pengungkapan dalam catatan atau laporan keuangan.
3) Dibuat dalam perkiraan tambahan, misalnya melalui adanya perkiraan (akun) penyisihan kerusakan lokasi, biaya pemeliharaan lingkungan dan sebagainya.”

Meskipun teknik pelaporan setiap perusahaan berbeda, tetapi pelaporan ini sangat berguna bagi perusahaan terutama untuk menambah kepercayaan para pemegang saham, selain bagi perusahaan pelaporan ini juga bermanfaat bagi pemerintah dalam pengambilan keputusan dan berbagai kebijakan.
Sebenarnya setiap perusahaan tidak perlu ragu-ragu dalam mengambil sikap untuk memenuhi tuntutan sosial sesuai dengan kepentingan perusahaan. Oleh karena itu perusahaan dapat saja menetapkan suatu strategi atau kebijakan sehingga tidak memberatkan bagi perusahaan atau mengurangi keuntungan bersihnya, seperti yang diutarakan oleh Djaslim Saladin, dalam bukunya yang berjudul Manajemen yaitu sebagai berikut :
“1. Untuk memikul biaya tanggung jawab sosial tersebut, perusahaan dapat membukukan ke dalam laporan keuangan perusahaan, seolah-olah merupakan pengeluaran yang dapat dipertanggungjawabkan dalam perhitungan pajak perusahaan.
2. Dalam meningkatkan kesejahteraan karyawan sesuai dengan kemampuan perusahaan, maka perusahaan dapat mengembil suatu strategi untuk memotivasi dalam usaha menigkatkan produktivitas.
3. Untuk merumuskan tanggung jawab sosial tersebut, perusahaan menyusun suatu program sosial atas dasar berkelanjutan dan bukan suatu tindakan seketika saja dan memikirkan bagaimana memanfaatkan hal itu untuk kepentingan perusahaan agar tidak terganggu.”

Para manajemen harus menyadari bahwa misi perusahaan itu tidak hanya membicarakan finansial, profitabilitas, dan pertumbuhan perusahaan. Memang benar tanpa adanya profit akan terjadi suatu masalah, apalagi profitabilitas itu mendasar yang dijadikan tolok ukur implementasi keberhasilan strategi.
2.5 Manfaat Pelaksanaan Corporate Sosial Responsibility (CSR)/ Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Bertambahnya kesadaran perusahaan-perusahaan terhadap pelaksanaan CSR tentunya tidak lepas dari manfaaat yang mereka dapatkan dari pelaksanaan CSR tersebut. Berikut ini adalah manfaat yang dapat diperoleh perusahaan dengan adanya tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) menurut Business Sosial Responsibility (BSR) Staff di dalam http://www.bsr.org :
1. Manfaat pertama CSR adalah menurut pendapat diatas adalah Reduced Operating Cost (mengurangi biaya operasional). Adalah adanya tanggung jawab sosial perusahaan mampu mengurangi beban atau biaya operasional perusahaan, misalnya jadwal kerja yang fleksibel dan program keselamatan kerja berdampak pada menurunnya absensi pekerja dan menambah simpanan uang perusahaan dari pekerja melalui peningkatan produktivitas kerja.
2. Manfaat ke-dua adalah Improved Financial Performance (meningkatkan kinerja keuangan). Hubungan antar tanggung jawab sosial dengan kinerja keuangan yang positif dapat dilihat dari kriteria melalui total return, sales growth and profit growth selama lebih dari satu periode sebaik net profit margin dan return on equity.
3. Manfaat CSR yang ke-tiga adalah Enhanced Brand Image and Reputation (Meningkatkan citra produk dan reputasi). Perusahaan menyadari adanya tanggung jawab sosial bermanfaat bagi meningkatnya reputasi, baik perusahaan di mata publik sebagaimana sebaik reputasi di dalam komunitas bisnisnya sehingga dapat menarik rekan bisnis baru dan mendapat keuntungan.
4. Manfaat yang ke-empat dari CSR yaitu Increased Sales and Customer loyalty (Meningkatkan Penjualan dan Kesetiaan Konsumen). Dengan memproduksi barang yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan ditunjang pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) akan menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan tersebut, dan diharapkan masyarakat tetap setia menggunakan hasil produksi perusahaan tersebut.
5. Manfaat CSR yang ke-lima adalah Increased Produktivity and Quality, yaitu (meningkatkan produktivitas dan kualitas). Usaha perusahaan dalam menciptakan kondisi kerja yang produktif, mengurangi dampak buruk bagi lingkungan atau melibatkan pekerja dalam peningkatan produktivitas dan mengurangi angka kesalahan yang terjadi.
6. Manfaat ke-enam dari CSR adalah Increased Ability to Attract and Retain Employees (meningkatkan kemampuan untuk mempekerjakan dan mengupah pekerja). Perusahaan menyadari dengan komitmen tinggi atas tanggung jawab sosial perusahaan akan lebih mudah dalam merekrut dan mengupah pekerja, berdampak pada penurunan perputaran biaya perekrutan dan pelatihan. Orang akan memilih bekerja pada lingkungan kerja dimana tidak ada konflik sosial yang tercitpta terutama masalah ketenagakerjaan.
7. Manfaat CSR yang ke-tujuh adalah Reduced Regulatory Oversight (mengurangi penyimpangan tindakan dari undang-undang). Pemerintah memiliki peranan dalam pembuatan kebijakan perundangan yang dijadikan pedoman bagi perusahaan dalam kegiatan operasionalnya. Pemerintah memberikan penghargaan bagi perusahaan yang bertindak proaktif terhadap lingkungan, misalnya keberhasilan dalam pengolahan limbah pabrik serta menjaga akelestarian lingkungan.
8. Manfaat ke-delapan CSR adalah adalah Access to Capital (cara mendapatkan modal). Pertumbuhan investasi terhadap tanggung jawab sosial yang tinggi telah memberi jalan bagi masuknya tambahan modal yang mungkin telah tersedia.
Dari pernyataan diatas dapat dilihat bahwa pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat atau lingkungan sekitar tetapi juga bermanfaat bagi perusahaan tersebut dalam menghasilkan laba.
Pengaruh Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dengan Profitabilitas
CSR merupakan bagian dari struktur perusahaan yang kokoh dan tidak tergantikan. Jika dikelola dengan baik program CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan ini dapat menghasilkan manfaat yang signifikan dalam bentuk reputasi perusahaan tentu saja manfaat ini bukan hanya dirasakan oleh pihak-pihak yang berpartisipasi, karena program ini tidak hanya memperkaya kesejahteraan dari banyak komunitas dan individu yang kurang beruntung, dan mengatasi masalah yang mengancam generasi masa depan dan sumber daya alam juga dengan memperkokoh profitabilitas perusahaan. Beberapa pendapat mengenai pengaruh CSR terhadap profitabilitas perusahaan diantaranya :
Agus Muharram dalam http://www.beritabumi.or.id mengungkapkan mengenai pengaruh positif dari CSR ini yaitu sebagai berikut :
“CSR dapat menciptakan brand image (citra produk) dari suatu perusahaan. Brand image tentu saja sangat berperan dalam mendongkrak volume pernjualan, mempertahankan loyalitas konsumen lama, serta membangun/mengembalikan citra positif perusahaan yang sebelumnya (mungkin) sempat terdistorsi. Hasil akhir dari implementasi CSR ini tentu saja juga kembali kepada peningkatan corporate value yang akhirnya berpaling kepada shareholder lagi.”

Dalam Talkshow Smart Corner Club Magister Manajemen Universitas Gajah Mada bertemakan ‘The Power of Corporate Social Responsibility’ di Student LoungeMagister Manajemen Universitas Gadjah Mada, Sabtu (10/3/2007) Senior General Manager Community Building Center PT Telkom Indonesia Tbk, bapak Erwin Djueni dan Manajer Grapari DIY Agustiono seperti dikutip dalam http://www.mmugm.ac.id mengemukakan bahwa:
“CSR adalah aset strategis dan kompetitif bagi perusahaan di tengah iklim bisnis yang makin menuntut praktik etis dan bertanggung jawab. CSR melahirkan sejumlah keuntungan, yaitu profitabilitas dan kinerja finansial yang lebih kokoh, misalnya lewat efisiensi lingkungan, menurunkan kerentanan gejolak dengan komunitas sekitar, sekaligus mempertinggi reputasi perusahaan.”
Selain pernyataan-pernyataan di atas, juga terdapat hasil survey yang secara langsung mengatakan pengaruh CSR terhadap Profitabilitas yaitu pernyataan yang dikemukakan oleh Adams dan Zutshi seperti disadur oleh Diah Retno Bayumurthi sebagai berikut:
“Sebuah survey internasional yang dilakukan oleh Price Water House Coopers pada tahun 2002 mengungkapkan 70% Global Chief Executive berpendapat bahwa pelaksanaan CSR adalah vital bagi profitabilitas perusahaan.”

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
CSR merupakan suatu konsep terintegrasi yang menggabungkan aspek bisnis dan sosial dengan selaras agar perusahaan dapat membantu tercapainya kesejahteran stakeholders, serta dapat mencapai profit maksimum sehingga dapat meningkatkan harga saham. CSR merupakan kepedulian perusahaan yang didasari tiga prinsip dasar yang dikenal dengan istilah Triple Bottom Lines, yaitu: Profit (keuntungan), People (masyarakat) dan Planet (lingkungan)
CSR merupakan salah satu hal yang memiliki peranan yang cukup penting dalam hal keberlangsungan hidup suatu perusahaan. Apabila perusahaan mengabaikan tanggung jawab sosialnya, maka hal tersebut dapat mengganggu going concern perusahaan yang berupa tuntutan dari lingkungan internal dan eksternal perusahaan khususnya masyarakat. Oleh sebab itu untuk mengantisipasi terganggungnya going concern perusahaan perlu sikap yang tegas dan komitmen yang tinggi dari pihak perusahaan untuk menjaga hubungan yang baik dan berkesinambungan terhadap stakeholders nya. Perubahan-perubahan yang terjadi setelah perusahaan memperhatikan tanggung jawab sosialnya biasanya akan tampak pada kinerja perusahaan dan penampilan finansialnya dimana kondisi dan posisi keuangan perusahaan mengalami perubahan dan hal ini tercermin dalam laporan keuangan perusahaan yang sadar akan pentingnya memperhatikan tanggung jawab sosial bagi pertumbuhan dan keberlangsungan usahanya.
Dengan adanya pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dikelola dengan baik maka secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Selain itu perusahaan dapat pula melindungi lingkungan sekitar agar terjadi keharmonisasian antara perusahaan dengan lingkungan sekitar dan masyarakat.